Januari 7, 2026

BAHASA: RUMAH BAGI HATI BANGSA

82. BAHASA RUMAH BAGI HATI BANGSA

BAHASA: RUMAH BAGI HATI BANGSA

Penulis : Erna Sari Agusta, Agung Sedayu, Callista Astrella, Balqis Anggraini, Cantika Febryana Baresi, Athira Rifqa Syahira Rachmat, Nabila Husna Rusyidah, Norah Jasmine Jameel, Putri Fatimatuh Z. A., Angelica Sharon Angkasa, Vania Putri Aurellie, Arfazila Putri, Nafilah Mahiya Yasyfeen, Nafilah Mahiya Yasyfeen, Aisyah Kheysamona Ajie, Gendis Pramestiani Vastedendah, Keyla Zahratunnisa, Zakiyyah Khansa Widipurnama, Erlina Levina Putri, Nahda Shakira, Kasyfa Alisha Kaisara, Nayla Tiffani, Nasya Zulfi Iskandar, Syakira Putri Hayfa, Syakira Putri Hayfa, Amaliadila Bahira, Amaliadila Bahira, At-Thahirah Kanaya Hidayat, Sheila Noer Vitri, Nayra Taqwa Putri Ustuhri.

Editor: Muthmainnatun Nur Khikmah

Tata Letak Isi : Salsabila Balqis Wijaya.

Desain Sampul : Salsabila Balqis Wijaya.

DITERBITKAN OLEH: LEMBAGA LADANG KATA

viii + 120 halaman; 13 cm x 19 cm

Cetakan Pertama, Januari 2026

ISBN: (PROSES)

Bahasa: Rumah bagi Hati Bangsa adalah kumpulan cerpen yang lahir dari kejujuran rasa dan kecintaan para penulis muda terhadap Bahasa Indonesia. Melalui kisah-kisah sederhana tentang keluarga, persahabatan, pendidikan, rindu, dan perjalanan menemukan jati diri, buku ini menghadirkan bahasa bukan sekadar sebagai alat komunikasi, melainkan sebagai rumah tempat pulang bagi hati yang mencari makna.

Setiap cerpen menuturkan bagaimana Bahasa Indonesia hidup dalam keseharian: di ruang kelas, di rumah, di panggung lomba, hingga di negeri asing. Dari anak-anak yang belajar percaya diri melalui kata, remaja yang menemukan cinta lewat bahasa, hingga sosok-sosok yang sadar bahwa menjaga bahasa berarti menjaga bangsa semuanya dirangkai dengan tulus dan menghangatkan.

Antologi ini menjadi pengingat bahwa Bahasa Indonesia adalah identitas, pemersatu, dan warisan yang harus dirawat bersama. Di tangan generasi muda, bahasa tumbuh menjadi jembatan yang menyatukan perbedaan dan menyalakan harapan.

Buku ini tidak hanya mengajak pembaca untuk membaca cerita, tetapi juga untuk pulang—pulang pada bahasa, pada Indonesia, dan pada cinta yang paling mendasar: cinta pada jati diri bangsa

BAHASA: RUMAH BAGI HATI BANGSA

Related articles

Kembali ke Atas