April 16, 2026

Oase Studi Qur’an dan Tafsir Late Antiquity, Maqashidi, Kronologi, dan Transmisi

114. OASE STUDI QURAN

Oase Studi Qur’an dan Tafsir

Late Antiquity, Maqashidi, Kronologi, dan Transmisi

Penulis : Reziq Mahfuz Ma. Iballa, Iffah Al Walidah, Ahmad Jumaedi, Putri Nattalia Nurazizah, Nadia Sofia Zain, Hadian Nalendra Zakaria, Ummatun Marhumah Ayu Qur’ani, Hari Prasetia, Nadya Azzahra Kamilaini, Marendra, Wahyuni Nur Aulia, Syafrida Syidrotunnisa, Yusron Zakarsya Millah, Afifa Thoyyibah, Luthfiah Nailu Rohmah, Ezra Najih Wildany, Wulidal Habibi, Jauharah Khairun Nisa, Salma ‘Aini Fuadiyah, Dzikri Nahrul Hayat, Rizkiul Fikri Almunsyawi, Muhammad Hisnullah, Lintang Dewi Fi’liya Putri, Chintya Elzahra, Shobibatur Rohmah, Fahmi Hafidz, Muhammad Gumilang Ramadhan, Siti Nor Khadijah, Muhammad Rival Ash Siddiqi, Syarifah Zifa Putri Andini, Ilham Muqorrobin, Wahyu Fitria, Asrof Reriantama Ainul Yakin, Findah Ariyani, Akmal Haidir, Ahmad Dzaki Azkiya, Intan Qurrotul Aini, Khilya Lutfya Hanim

editor: Iffah Al Walidah, Mohammad Ulil Rosyad, Ahmad Fauzi, Muhammad Gumilang Ramadhan, HarI Prasetia

Tata Letak Isi:Muthmainnatun Nur Khikmah 

Desain Sampul : Tim Kreatif

Diterbitkan oleh: LEMBAGA LADANG KATA

viii + 316 halaman; 14,5 cm x 20,5 cm

Cetakan Pertama, April 2026

ISBN: PROSES

Buku yang ada di tangan pembaca ini merupakan sebuah kompilasi pemikiran yang ambisius, memetakan pergeseran paradigma dalam studi Al-Qur’an dan Islam kontemporer. Penulis dalam karya ini tidak hanya mengajak kita bergelut dengan teks, tetapi juga dengan konteks, metodologi, kelisanan, hingga transmisi media.

Pada bagian awal, pembaca akan diajak menyelami dunia Late Antique dan Intertekstualitas. Di sini, Al-Qur’an didudukkan dalam dialog yang intens dengan tradisi-tradisi sebelumnya, seperti Kristen Arab dan tradisi Syriac. Melalui pemikiran tokoh seperti Gabriel Said Reynolds, Emran El-Badawi, hingga pendekatan Oxford, kita diajak melihat bagaimana Al-Qur’an berinteraksi dengan lingkungan zamannya, menciptakan dialektika yang kaya antara sejarah dan kritik makna.

Masuk ke bagian Maqashid dan Diskursus Metodologis, buku ini membedah “alat bedah” itu sendiri. Dari pendekatan kontekstual Abdullah Saeed hingga tawaran progresif Ma’na Cum Maghza, bagian ini menegaskan bahwa menafsirkan Al-Qur’an adalah upaya untuk menangkap “ruh” pesan Tuhan di tengah perubahan zaman. Isu-isu sensitif seperti relasi gender, hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd, hingga pembacaan psikologis terhadap karya Buya Hamka, menunjukkan betapa elastisnya metodologi tafsir saat ini.

Diskursus mengenai Kronologi dan Kelisanan memberikan perspektif segar tentang bagaimana wahyu bertransformasi dari suara menjadi aksara. Melalui pembahasan mengenai Rasm, Qira’at, hingga tradisi tafsir syafahi (lisan), kita diingatkan bahwa kemurnian Al-Qur’an tidak hanya terjaga dalam tulisan, tetapi juga dalam getaran suara dan praktik komunikasi ilahi yang hidup di tengah masyarakat.

Tak kalah penting, bagian Transmisi Media dan Terjemah serta Islamic Studies memotret wajah Islam di era digital dan lokalitas Nusantara. Bagaimana teknologi mengubah cara kita mengonsumsi tafsir, hingga bagaimana pemikiran klasik seperti Ibnu Taimiyah dan Al-Ghazali tetap relevan dalam diskursus modern, dibahas secara bernas. Penutup buku ini juga memberikan “bonus” berupa refleksi personal mengenai identitas, metodologi penelitian, dan pengalaman mencari ilmu di kancah global.

Oase Studi Qur’an dan Tafsir Late Antiquity, Maqashidi, Kronologi, dan Transmisi

Related articles

Kembali ke Atas